ternyata aku masih sangat lugu,
aku masih anak kecil,
aku takut akan cepat terpengaruh dengan kehidupan dan omongan-omongan di luar sana..
ketika aku mendengar pengakuan dari seorang anak kuliah fakultas ***
di universitas yang sama, sedangkan aku hanya mahasiswa baru kedokteran di universitas sama dengan mbak itu…
AKU MERASA SANGAT MALU
ketika dia bilang “mbak malu dek 1 tempat kost dengan anak-anak kedokteran dek, gengsi mereka gede banget, mbak minder seminder-mindernya, mbak malu ngajak temen ke kost2an mbak.”
“waktu itu pernah mbak ngeliat perbedaan yg begitu signifikan antara anak kedokteran angkatan 2008 dan 2009, ketika ga sengaja kakak kelas angkatan 2009 menoleh dan menatap kumpulan anak-anak kedokteran angkatan 2008, mereka yang tidak suka langsung menegur dan menanyai “kenapa kamu lihat-lihat saya? angkatan tahun berapa kamu? ketika angkatan 2009 bilang “saya 2009, mbak”, langsung angkatan 2008 bilang “lihat saja nanti…”
alangkah besar gengsi mereka, aku malu, mbak, kak… aku yang adek kelas kalian merasa sangat malu, dalam 1 fakultas pun terjadi diskrimanasi…
mentang-mentang anak kedokteran bawa mobil, jas bergengsi, dan kalian pikir fakultas yang kalian pikir adalah fakultas terbaik dan yang paling bergengsi, ketika kalian memandang lemah fakultas-fakultas lain??? SAYA BENAR-BENAR MALU
Ketika salah satu dari kalian tidak di sengaja tertabrak oleh fakultas lain yang sedang buru-buru, padahal kalian hanya jatuh, brukk… dan itu ga parah ! kalian langsung menjelaskan beberapa macam alasan untuk meminta uang ganti (uang perawatan, uang ronsen, uang bensin, dan uang-uang yang lainnya)
APAKAH KALIAN TAK SADAR JIKA KALIAN BERADA DI FAKULTAS YANG TUGAS SEBENARNYA ADALAH MENGABDI PADA MASYARAKAT, HAH???
Mengapa masih ada penindasan dari kakak senior? apa kalian masih menerapkan pelajaran “balas dendam” di kamus kalian? apakah benar begitu cara kalian mengajari junior kalian? BIADAB SEKALI !
lebih baik kalian kembali ke zaman mesir firaun dimana kalian menjadi raja satu-satunya berkuasa, mendapatkan nilai sosial yang tinggi, di puja-puja dan didewakan yang bersikap arogan dan merendahkan orang lain !!!
saya ingin sekali memberi tahu kalian, kak, mbak… supaya kalian tahu..
Dokter tidak diciptakan untuk itu, mbak, kak…
  • Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.
  • Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.
  • Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.
  • Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.
  • Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.
  • Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, “jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.”
  • Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau diceritain dongeng nggak sama oom dokter?”
  • Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya”
  • Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam.
  • Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.
Yah, memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat di mana dokter sudah tidak lagi perlu ada…
Dokter terlalu rendah jika diniatkan hanya untuk keuntungan duniawi semata. Mungkin akan sangat susah untuk menggenggam erat idealisme ini nantinya. Namun saya yakin, jika ada kemauan yang kuat dan niat yang tepat, idealisme ini akan terbawa sampai mati. Walaupun harus sendirian dalam memperjuangkannya, walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan. Saya yakin, Allah tidak akan pernah salah menilai setiap usaha dan perjuangan hamba-hamba-Nya. Tidak akan pernah.