World Class Islamic University Of Sultan Agung Semarang (UNISSULA)

www.unissula.ac.id

Budaya belajar yang harus dikembangkan di dalam masyarakat Islam adalah budaya ibadah, karena salah satu tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT seperti di terangkan dalam

firman Allah (Q.S. 51: 56).

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون ﴿

Artinya, Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Seluruh babak kehidupan dan penghidupan manusia dalam segala aktivitasnya harus dibingkai dengan nilai ibadah. Demikian juga di dalam kehidupan kampus juga dihiasi dan dijiwai oleh nilai-nilai ibadah. Berangkat dari budaya inilah, budaya belajar yang berlaku dilingkungan UNISSULA juga diusahakan tidak lepas dari nilai ibadah untuk tidak kehilangan jatidirinya sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang bersemboyan “Bismillah, Membangun Generasi Khiara Ummah”.

Komitmen Unissula dengan visi Bismillah Membangun Generasi Khaira Ummah membawa konsekuensi pada optimalisasi peran untuk menjadi bagian dari gerakan membangun peradaban Islam. Dalam konteks ini, strategi Budai menjadi pilihan untuk memulai gerakan dengan program rekonstruksi ilmu dan perilaku atas dasar nilai-nilai Islam.

Manusia diberi anugerah yang namanya freedom of choice / free will (kebebasan untuk memilih). Ketika terdengar seruan shalat, hayya ‘alashalah, melanjutkan aktivitas atau segera bergegas mengambil air wudhu untuk shalat. Ketika sudah memutuskan shalatpun, misalnya, kita akan dihadapkan pada pilihan lagi, shalat di ruangan atau berjamaah di masjid. Ketika kita berbusana, kita akan dihadapkan dengan pilihan bagaimana pakaian yang akan kita pakai, berbusana Islami tapi ketat sehingga membentuk lekuk tubuh, berbusana Islami tapi transparan sehingga memperlihatkan aurat kita. Demikian pula dengan pergaulan, kita akan dihadapkan dengan pilihan pergaulan bebas, pamer aurat, percampurbauran lelaki dan wanita, termasuk hal-hal yang sangat fundamental. Kita akan memilih untuk beriman atau kufur. Dan semua pilihan itu akan dimintai pertanggungjawaban.

UNISSULA yang notabenenya adalah kampus Islami telah merumuskan cita-cita (visi, misi, tujuan) “bismillah, membangun generasi khaira ummah” tidak akan berhasil begitu saja tanpa ada usaha dan ikhtiar. Mewujudkan visi, misi dan tujuan bukan sehari, seminggu, sebulan kemudian terlaksana melainkan diperlukan waktu dan proses yang panjang. Oleh karena itu diperlukan keseriusan gerakan bersama-sama dan terus menerus, diperlukan pembudayaan oleh seluruh insan kampus. Gerakan bersama-sama dan terus menerus itulah selanjutnya disebut sebagai Budaya akademik Islami.

UNISSULA berusaha membangun kembali peradaban Islam, dan dengan BUDAI berusaha membangun gerakan pembudayaan Islam bagi semua warga kampus UNISSULA. Diantara gerakan program pembudayaan akademik Islami yang akan dikaji dalam laporan ini antara lain :

1.      Pelaksanaan thoharoh (lingkungan bersih, sehat dan bebas rokok).

2.      Pelaksanaan shalat berjamaah (dhuhur dan ashar).

3.      Implementasi busana Islami.

4.      Adab pergaulan putera dan puteri.

Mengenai busana seorang muslim dan muslimah, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.

  1. Menutupi seluruh bagian tubuh yang wajib ditutup.
  2. Benar-benar berfungsi menutupi (karena itu tidak boleh transparan).
  3. Tidak memperlihatkan lekuk bagian tubuh yang wajib ditutup.
  4. Pakaian seorang laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian wanita, demikian pula sebaliknya.
  5. Tidak menyerupai ciri khas orang-orang kafir.
  6. Tidak boleh berpakaian dengan sombong.

Contoh Busana Muslim di Kampus Unissula

Apa Kata Mereka Tentang Jilbab?

Jilbab merupakan sesuatu yang digunakan untuk menutupi aurat wanita, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, dan yang kebanyakan dipakai oleh wanita-wanita sekarang adalah kerudung, bukan jilbab.

Fenomena “jilbab” di Unissula? Kebanyakan mereka memakai kerudung, bahkan kerudung dipakai hanya untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan karena adanya program BUDAI (Budaya Akademik Islami). Fenomena yang banyak kita saksikan ialah mahasiswi memakai kerudung hanya di lingkungan kampus, namun ketika sudah keluar dari kampus mereka dengan bangga berlomba untuk pamer aurat. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena masih kurangnya kesadaran dan ilmu para muslimah akan kewajibannya menutup aurat.

Berjilbab yang baik ialah mengulurkan pakaian dengan sopan dan memakai kerudung untuk menutupi aurat di manapun kita berada.
2_CoA (Mahasiswi FK Unissula 2005)

Jilbab lebih dari sekedar identitas muslimah. Memakai jilbab merupakan perintah Allah, bukan merupakan tradisi atau trend! Jilbab juga mengisaratkan berbagai macam bahasa bagi pemakainya. Bahasa syukur, bahasa malu, sabar dalam ketaatan, keyakinan de el el. Tujuan dsisyariatkannya jilbab salah satunya adalah : “…supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu…” (QS. Al-Ahzab : 59).

Fenomena “jilbab” di Unissula? Kewajibab berjilbab di kampus Qta merupakan suatu keuntungan. Teman-teman yang ingin memakai jilbab ga lagi mendapat tekanan yang berarti. Ga seperti di era 90-an, ingin berjilbab saja banyak tekanan dari pihak luar. Tapi sayangnya, kemudahan memakai jilbab saat ini semudah melepaskannya. Kalo Qta amati, di kampus Qta bisa didapatkan 4 kelompok (tanpa bermaksud mengelompokkan teman2, ini hanya sebagai evaluasi saja), yaitu :

Kelompok 1 : Belum tahu wajibnya berjilbab, mereka hanya tahu jilbab wajib dipakai di lingkungan kampus.

Kelompok 2 : Sudah tau, tapi belum melaksanakan.

Kelompok 3 : Sudah tau, melaksanakan tetapi dalam proses berjilbab secara syar’i.

Kelompok 4 : Sudah tau, melaksanakannya dan istiqamah (insya Allah, semoga Allah menjaganya) memakai jilbab yang syar’i. Berjilbab yang baik ya berjilbab yang bisa memotivasi diri untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari dan orang-orang disekitar Qta juga ikut baik. Kriteria jilbab yang syar’i yaitu jilbab yang tidak ketat, tidak transparan, tidak memakai wangi-wangian, menutupi kepala, dada dan punggung.

Dwi Novitasari (Mahasiswi FK Unissula 2004)


Daftar Bacaan

1. Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 2001. Jilbab Wanita Muslimah Menurut Al-Qur`an dan As Sunnah (Jilbab Al-Mar`ah Al-Muslimah fi Al-Kitab wa As-Sunnah). Alih Bahasa Hawin Murtadlo & Abu Sayyid Sayyaf. Cetakan ke-6. (Solo : At-Tibyan).

2. ———-. 2002. Ar-Radd Al-Mufhim Hukum Cadar (Ar-Radd Al-Mufhim ‘Ala Man Khalafa Al-‘Ulama wa Tasyaddada wa Ta’ashshaba wa Alzama Al-Mar`ah bi Satri Wajhiha wa Kaffayha wa Awjaba). Alih Bahasa Abu Shafiya. Cetakan ke-1. (Yogyakarta : Media Hidayah).

3. Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1998. Emansipasi Adakah dalam Islam Suatu Tinjauan Syariat Islam Tentang Kehidupan Wanita. Cetakan ke-10. (Jakarta : Gema Insani Press).